Namaku Vania, saya seseorang gadis berusia 17 th., saat ini saya duduk di kelas 3 SMA. Saya satu sekolah dengan Riko, penulis narasi ini. Ayahku keturunan Barat serta ibuku keturunan Chinese. Kombinasi ini yang membuatku jadi seseorang gadis tinggi ramping, berkulit putih serta meskipun badanku tak terlampau seksi, dapat kututupi kekurangan itu dengan wajahku yang kata orang sih cantik. Sudah pasti saya suka mendengarnya, terlebih saat Riko menyampaikan bila bibirku betul-betul menggoda. Memanglah sih saya belum pernah tidur dengan seseorang pria, namun bila masalah yang begituan saya cukup pakar, yah mungkin saja ketularan sama omes-nya (otak mesum) Riko serta rekan-temannya yg tidak kalah omes. Jadi kesimpulannya, saya juga termasuk juga pakar di bagian begituan.
Hari itu, kurang lebih jam 4 sore tanggal 12 Februari th. ini, saya jalan-jalan berbarengan Precill serta Yuli. Kami sedang mencari suatu hal yang bisa kami berikanlah ke cowok yang paling dekat dengan kami, kan 2 hari lagi Valentine, jadi mesti memberi yang istimewa donk. Sesudah seputar 2 jam berkeliling mencari barang yang pas, saya pada akhirnya menyerah. Saya sekalipun tak memperoleh barang yang betul-betul khusus untuk cowokku (hehehe, tujuannya untuk gue yang menulis narasi ini).
Pada akhirnya kuputuskan untuk mencari ditempat lain saja besok. Saya pulang tanpa ada membawa apa-apa, tidak sama dengan Precill serta Yuli yang telah memperoleh yang mereka mencari. Saya memanglah sulit mencari barang untuk Riko, dia tuh orangnya suka yang romantis serta sedikit berbau omes gitu lah. (Ini kelihatannya pujian untuk gue). Namun saya meyakini, saya bakal memperoleh suatu hal untuk dia. Kan bila kita ingin usaha, pasti kita bakal memperoleh apa yang kita kehendaki. Bener ngtidak..?
Singkat narasi, saya sekalipun tak memperoleh apa-apa, bahkan juga besoknya juga saya masih tetap tak memperoleh apa-apa. Saya tidak ingin memberi suatu hal yang umum, kupikir semakin bagus saya tak memberi sekalipun dari pada kuberikan suatu hal yang umum di hari yang khusus kelak. Nyatanya Riko telah berinisiatif lebih dahulu, dia mengajakku candle light dinner. Pas seperti sangkaanku, dia memanglah sukai keromantisan, kami cuma makan sedikit selalu minum sedikit serta kami pernah slow dance dahulu saat sebelum pada akhirnya duduk lagi, cuma duduk serta sama-sama melihat.
![]() |
| Win88bet.com |
Tidak paham lantaran saya terbawa situasi atau memanglah si Riko jago (muji gue lagi nih), yang pasti saya betul-betul nikmati malam itu. Riko memberi kalung cantik serta dia memasangkan di leherku.
Selalu diciumnya pipiku dari belakang sembari berkata, “Biar hari ini jadi hari yang eloe kenang sepanjang hidup eloe. serta gue berharap eloe juga inget siapa yang ada disini ngerayain hari Valentine ini sama eloe. ” (Mengganggu lagi nih, perasaan gue ngomongnya ngtidak gitu deh, namun intinya sih sama lah.)
Kalian pasti tahu kan bila cewek itu gampang terangsang bila situasi hatinya mensupport ditambah dengan sentuhan yang pas. Tak seperti cowok, cowok itu gampang sekali terangsang, umumnya segera tegang itunya cuma lantaran lihat dada atau paha cewek. Oke, kembali pada deh ke narasi kita. Tidak paham mengapa, yang pasti Riko lakukan sesuai sama apa yang kuharapkan, serta tidak paham mengapa, saya pada akhirnya temukan suatu hal yang khusus untuk kuberikan kepadanya. Kuajak dia ke rumahku, saya tahu persis orangtuaku tak ada dirumah, serta dirumah cuma ada si Iyem saja.
Hingga dirumah, Riko duduk di kursi tamu seperti umum serta kubawakan minuman buat dia. Saat saya balik lagi, Riko tengah melihat-lihat album fotoku. Dia tersenyum saat lihat fotoku saat masih tetap kecil. Saat saya datang dia segera tersenyum ke arahku. Kuletakkan minuman di meja serta katakan bila saya tidak bisa memberi apa-apa di hari Valentine ini, namun saya mempunyai suatu hal yang khusus buatnya di hari khusus ini.
Saya duduk di samping Riko, kubiarkan Riko memelukku serta menciumku. Bibirnya lembut membasahi bibirku, selalu dia mengambil sirup di meja serta pura-pura menumpahkannya di bajuku.
Kami berdua tertawa berbarengan, selalu dia berkata, “Ups.., sorry ya. Mendingan eloe ubah baju dahulu, kelak masuk angin jika pakai baju basah gini. ”
Saya tahu Riko memanglah berniat, dia ingin mengajakku ke kamar. Deg-degan juga sih, namun saya telah berkemauan bila saya mesti bisa memberi yang khusus buatnya hari ini.
Rupanya Riko sudah mengetahui bila saya memanglah ingin memberi suatu hal yang telah 17 th. kujaga baik-baik. Yap, saya memanglah memilihnya untuk mengambil kesucianku. Kurasa memanglah dia orang yang pas. Saya ke kamar, serta seperti yang kuduga serta kuinginkan, Riko mengikutiku. Selalu dia duduk di ranjangku memerhatikanku jalan ke arah almari bajuku.
Saya cuek saja buka baju di depan dia, namun saat saya ingin buka BH-ku, Riko memelukku dari belakang sembari berkata, “Biarkan malam ini jalan lambat, janganlah butuhkan saat terlampau cepat. ”
Saya menurut saja, kubiarkan dia mencium leherku, bahuku serta pada akhirnya menggendongku ke tempat tidur. Riko masih tetap belum senang bermain dengan bibirnya, dia menciumku 2 x, serta demikian kusadar, tahu-tahu BH-ku telah hilang, tidak paham kemana. Saya tak sadar kapan Riko buka BH-ku itu, yang pasti saat ini dadaku telah telanjang. Mungkin saja lantaran saya terlampau terbawa situasi.
Riko mulai jemu bermain dengan bibirnya, kesempatan ini dia memakai lidahnya menjilati puting buah dadaku. Lembut serta membuatku enak kegelian. Saya cuma memejamkan mata sembari merasakannya menjilat serta sesekali menghisap putingku. Setiap kali dia hisap seperti ada setrum di tubuhku, saya senantiasa menggeliat menahan geli. Saya tak bosan-bosan rasakan nikmatnya permainan lidah Riko. Tak tahu berapakah lama saya terdiam rasakan enaknya sentuhan untuk sentuhan dari bibir serta lidahnya.
Nyatanya berbarengan dengan lidahnya bermain, tangan Riko tak tinggal diam. Soalnya saat kubuka mata, saya kaget sekali, nyatanya saya telah telanjang bulat, serta Riko cuma memakai celana dalam saja. Hebat juga dia dapat menenlanjangiku serta melepas bajunya tanpa ada bisa kuketahui. (Sebatas info, dia saja yang ngtidak sadar keenakan, walau sebenarnya gue lumayan lama juga ngebugilin dia serta gue pernah keluar dahulu minum sirup gue yang masih tetap kesisa, masalahnya lidah gue telah kering ngejilatin dadanya, hehehe.)
Kucoba untuk bangun, namun tubuhku merasa lemas, saya sekalipun tak bertenaga. Saya tidak bisa berbuat apa-apa saat Riko mulai turun selalu mencium pusarku. Selalu tangannya buka pahaku lumayan lebar. Saya terasa malu juga saat Riko lihat vaginaku. Riko tak lama-lama melihatnya, serta tak lama dia telah menjilati bibir kemaluanku.
Lebih gila lagi, ternyata ketika dia menjilat vaginaku, rasanya jutaan kali lebih nikmat dari permainannya di puting payudaraku. Dia menjilat beberapa kali, terus dia menjilat klitoris-ku. Ini lebih hebat lagi, soalnya tanpa sadar aku mendesah. Sebenernya lebih mirip teriak keenakan ketika lidahnya pertama kali menyentuh klitorisku yang memang super sensitif. Gila, ternyata Riko tidak hanya menjilatnya beberapa kali, tetapi berkali-kali, terus dia memelintir perlahan klitoris-ku. Wah, itu sih tidak dapat dijelaskan, yang jelas badanku refleks kejang dan aku menjambak rambutnya tanpa sadar. Tetapi ketika rasa kesetrum itu mulai hilang, aku malah ingin lagi. Ternyata Riko tahu, dia memelintir lagi klitoris-ku sekali lagi dan seperti sebelumnya, aku kejang lagi. Terus dia malah lebih gila lagi, digosok-gosokkannya klitorisku dengan ujung jarinya. Aku tidak tahan kejang-kejang, tetapi Riko memegang pinggangku, jadi aku tidak dapat bergerak bebas.
Rasa nikmat itu lalu memuncak dan aku tidak sadar lagi, semua terasa gelap dan badanku kejang-kejang tidak karuan tanpa dapat kukontrol. Aku tahu aku sudah sampai puncak, dan begitu kusadar lagi, Riko sudah menggosok-gosok kepala penisnya yang besar sekali ukurannya. Aku tidak yakin penis sebesar itu dapat masuk ke vaginaku, ada juga sih rasa takut. Tetapi aku sudah bertekad, aku akan memberikan kesucianku untuk Riko.
Riko terus menekan sedikit penisnya. Bibir kemaluanku terasa terbuka, dan akhirnya kurasakan kepala penisnya di bagian luar vaginaku. Riko terus mencium bibirku dan membuka pahaku lebih lebar, kututup mataku, siap menerima apa yang akan terjadi. Ternyata tidak terjadi apa-apa, sialnya ketika kubuka mata, Riko sedang menekan penisnya kuat-kuat ke vaginaku. Kontan saja aku berteriak, lumayan kencang juga.
Belum habis rasa kagetku, Riko menyodok lagi penisnya ke vaginaku, perih sekali rasanya. Sepertinya badanku terbagi dua karena robek disodok penis sebesar itu. Tetapi rasa sakit itu berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi rasa nikmat yang tidak kalah dari rasa nikmat ketika Riko memelintir-melintir klitoris-ku. Riko mulai goyang maju mundur pelan-pelan, tetapi kerasanya hebat sekali ketika penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku. Sepertinya tidak ada ruangan kosong lagi di vaginaku, semua terasa sudah sesak disodok-sodok. Aku mencoba untuk menahan sakit dan itu berhasil. Rasa sakit itu berubah menjadi sengatan-sengatan listrik yang membuatku ingin lagi disodok-sodok.
Melihatku mulai tenang, Riko tambah mempercepat mengocok vaginaku yang sudah banjir karena basah. Aku hanya dapat memejamkan mata dan mendesah-desah menikmati permainan Riko. Yang jelas aku bener-bener hanyut dalam suasana itu. Tiba-tiba Riko bergerak semakin cepat dan ada sengatan yang lebih nikmat lagi dari dalam vaginaku. Sepertinya aku akan mencapai puncak lagi, dan aku sudah tidak sabar menunggu saat indah itu. Riko semakin cepat dan liar mengocok vaginaku. Sama sekali sudah tidak ada iramanya lagi.
Tanpa sadar aku mulai berteriak-teriak kecil menikmati semuanya itu. Terus akhirnya semua gelap, aku kejang-kejang lagi seperti tadi. Aku baru sadar waktu ada sesuatu yang hangat di perutku, dan waktu kubuka mata, Riko sedang mengocok-ngocok penisnya dengan tangannya dan dari penisnya muncrat cairan putih kental ke perutku. Kubiarikan Riko memuncratkan maninya sampai habis, baru aku berusaha bangun. Aku pusing sebentar, tetapi terus hilang. Riko membersihkan badannya di kamar mandi, terus menghampiriku yang sudah menggunakan pakaian lengkap.
Riko mencium keningku, terus dia duduk di sebelahku, meremas jariku sambil bilang kalau dia puas sekali dan dia bilang aku tidak akan kecewa memilihnya. Aku percaya kalau Riko serius, aku tahu dia bukan orang yang suka mempermainkan cewek. Aku yakin pilihanku kali ini benar. Pasti benar deh.
“Thank’s buat hadiahnya, ini bener-bener hadiah yang tidak ternilai buat gue.” kata Riko, terus menciumku lagi.
Kemudian dia membantuku ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Aku benar-benar lemas, dan ketika Riko ingin pulang, aku hanya mengantarnya sampai pintu depan saja, tidak sampai gerbang. Terus ketika Riko sudah pulang, kukunci pintu dan terus aku roboh di sofa. Aku lemas sekali dan tidak ingat apa-apa.
Waktu kubangun pagi, aku benar-benar kaget, soalnya aku masih telanjang. Aku langsung lari ke kamar dan pakai baju. Aku terus duduk di ranjang. Ada sisa-sisa rasa pedih di selangkanganku, tetapi rasa pedih itu kalah dengan kenangan nikmat tadi malam. Benar-benar malam yang spesial untukku dan kuharapkan malam yang spesial juga untuk Riko..
Contact :
Pin BBM : 2B4BD361
Yahoo : CS1_win88bet / CS2_win88bet
telepon&sms : +855 1226 7210

0 comments:
Posting Komentar